SEJARAH KOTA JOGJAKARTA, 7102017 HUT KE – 261

KOTA YOGYAKARTA berdiri tidak lepas adanya Perjanjian Gianti pada 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut membagi Mataram menjadi dua wilayah. Setengah masih menjadi hak Keraton Surakarta, setengah lagi menjadi milik Pangeran Mangkubumi. Setelah perjanjian pembagian daerah itu, Pangeran Mangkubumi yang telah berganti nama menjadi Hamengku Buwono (HB) I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Jogja). Itu terjadi pada tanggal 13 Maret 1755.

Sebelum keraton berdiri, HB I menempati Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, yang juga sedang dalam tahap pengerjaan proyek. HB I secara resmi menempati pesanggrahan pada 9 Oktober 1755. Setahun kemudian HB I memasuki istana baru yang ada di lokasi keraton saat ini, di mana masuk wilayah Kota Jogja.

Perpindahan dari Pesanggrahan Ambarketawang ke Keraton Ngayogyakarta berlangsung pada tanggal 7 Oktober 1756. Tanggal inilah yang akhirnya ditetapkan sebagai hari ulang tahun Kota Jogja
Saat membangun kawasan perkotaan, HB I menerapkan konsep caturgatra. Yakni keraton sebagai pusat pemerintahan, masjid sebagai pusat keagamaan, pasar sebagai pusat perdagangan, dan alun-alun sebagai ruang publik.

Pada Puncak Acara HUT ke-261 Kota Yogyakarta Tahun 2017 ini Pemkot Yogyakarta kembali menghadirkan Wayang Jogja Night Carnival 2017.

Wayang Jogja Night Carvinal merupakan event tahunan yang mengangkat kekuatan budaya Yogyakarta sebagai sajian utama.

Diharapkan, event ini menjadi bentuk atraksi wisata dan memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata utama di Indonesia.

Untuk tahun ini, perhelatan Wayang Jogja Night Carnival tidak jauh berbeda dengan perayaan tahun sebelumnya. Peserta karnaval masih berasal dari masyarakat 14 kecamatan Kota Yogyakarta.

Sebanyak 1.200 orang akan menjadi peserta pawai dengan menampilkan pertunjukkan kreasi sesuai tema yang telah dipilih.

“Masing-masing kecamatan mendapat tokoh pewayangan berbeda-beda, mereka nantinya mulai dari kostum, properti pertunjukkan, hingga atraksi seninya disesuaikan dengan tokoh wayang yang ditunjuk, perbedaan mendasar dengan perhelatan tahun lalu adalah tokoh wayang yang diangkat berbeda dengan tahun lalu.

Tahun ini tokoh-tokoh yang diangkat antara lain, Nakula Sadewa, Karno, Drupadi, Puntadewa, Kumbokarno, hingga petruk.

“Tidak hanya pertunjukkan dari Masyarakat 14 kecamatan tapi juga ada pawai kendaraan hias bertemakan Ganesha dan Dewi Wilatama, pertunjukkan musik, hingga video mapping,”.

 

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*